Kisah Nabi Ismail, Idul Adha, Ka’bah dan Air Zam-zam


Pada suatu hari Nabi Ibrahim bermimpi, dalam mimpinya itu Allah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih anaknya yang bernama Ismail. Selepas dari mendapat mimpi itu, Nabi Ibrahim pun memberitahu isterinya yang bernama Siti Hajar.

Maka berbincanglah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail. Siti Hajar berkata, “Mungkin mimpimu itu hanya mainan tidur saja tetapi kalau mimpi itu merupakan wahyu, wajiblah dituruti.” Apabila mendengar kata-kata ibunya, Ismail berkata kepada bapanya, “Ayahku, sekiranya ini merupakan wahyu dari Allah S.W.T., aku sedia merelakan diriku untuk disembelih.”
Setelah persetujuan dicapai, keesokan harinya Nabi Ibrahim pun membawa puteranya Ismail untuk disembelih. Perkara Nabi Ibrahim hendak menyembelih anaknya telah sampai kepada pengetahuan orang ramai. Hal ini membuat orang ramai takut sehingga ada yang mengatakan, “Nampaknya Nabi Ibrahim mungkin sudah gila hinggakan mahu menyembelih anaknya sendiri. Kalau kita biarkan perkara ini, nanti kitapun akan dibunuhnya.”
Walau apapun tuduhan orang terhadapnya, namun Nabi Ibrahim tetap menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Allah S.W.T terhadapnya. Setelah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail sampai pada tempat yang dituju, berkatalah anaknya, “Wahai ayahku, aku fikir cara yang baik untuk menyembelih adalah dengan cara aku disembelih dalam keadaan menelungkup tapi mata ayah hendaklah ditutup. Kemudian ayah hendaklah tahu arah pedang yang tajam dan ayah kenakan tepat kepada leherku.”

Kemudian Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang Allah S.W.T perintahkan dalam mimpinya. Baginda pun mengucapkan kalimah atas nama Allah lalu memancungkan pedangnya pada leher anaknya itu. Maka terperciklah darah mengenai badan Nabi Ibrahim. Sebagai seorang manusia biasa, Nabi Ibrahim pun menggeletar dan membuka penutup matanya.
Tetapi alangkah terperanjatlah apabila melihat yang disembelihnya itu bukanlah anaknya melainkan seekor kibas. Dengan memuji kebesaran Allah S.W.T, kedua-duanya pun berpeluk-peluk sambil bersyukur kepada Tuhan kerana memberi kekuatan sehingga dapat melaksanakan amanat dari Allah S.W.T.
Sepeninggalan Nabi Ibrahim, iaitu sejak Siti Hajar melepaskan anaknya untuk disembelih oleh baginda, dia sentiasa menangis. Fikirannya bertambah runsing disebabkan diganggu oleh syaitan laknat yang mengatakan kononnya Nabi Ibrahim telah gila dan sebagainya.
Pada suatu hari, dari jauh Siti Hajar mendengar suara takbir memuhi-muji nama Allah, semakin lama semakin dekat dan akhirnya dapatlah Siti Hajar kenali bahawa suara itu adalah suara anaknya Ismail dan suaminya Nabi Ibrahim.
Maka dengan segera dia pergi mendapatkan anak dan suaminya sambil bersyukur kepada Allah S.W.T. kerana telab memberi kekuatan kepadanya sehingga dia sanggup membenarkan anaknya untuk disembelih.
Siti Hajar menangis bukanlah disebabkan marah kepada Nabi Ibrahim tetapi hanyalah menangis seorang ibu terhadap anaknya memandangkan dia adalah seorang wanita yang taat kepada Allah dan tidak mudah digoda oleh syaitan.
Peristiwa ini ada diterangkan dalan surah Ash-Shaffat ayat 101 hingga ayat 111
NABI ISMAIL DAN AIR ZAM-ZAM
Ismail berusia belia ketika  memulai perjalanannya menuju Allah SWT. Ibunya membawanya dan menidurkannya di  atas tanah, yaitu tempat yang sekarang kita kenal dengan nama sumur zamzam dalam  Ka’bah. Saat itu tempat yang dihuninya sangat tandus dan belum terdapat sumur  yang memancar dari bawah kakinya. Tidak ada di sana setetes air pun. Nabi  Ibrahim meninggalkan istrinya, Hajar, bersama anaknya yang kecil.
“Wahai Ibrahim kemana engkau hendak pergi dan membiarkan kami di lembah yang kering ini?” Kata  Hajar. “Wahai Ibrahim di mana engkau akan pergi dan membiarkan kami? Wahai  Ibrahim ke mana engkau akan pergi?” Si ibu mengulang-ulang apa yang
dikatakannya. Sedangkan Nabi Ibrahim diam dan tidak menjawab. Kita tidak
mengetahui secara pasti bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat meninggalkan mereka
berdua di suatu lembah yang tidak ada di alamnya tumbuh-tumbuhan dan minuman.
Namun Allah SWT telah memerintahkannya untuk tinggal di lembah itu. Dengan
lapang dada Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT.

Dalam kisah-kisah israiliyat  (kisah-kisah palsu yang dibuat oleh Bani Israil) disebutkan bahwa istri  pertamanya, Sarah, tampak cemburu pada Hajar, istri keduanya, sehingga karenanya  Nabi Ibrahim harus menjauhkannya beserta anaknya. Kami percaya bahwa kisah ini  palsu dan penuh dengan kebohongan. Jika kita mengamati kepribadian Nabi Ibrahim,  maka kita mengetahui bahwa beliau tidak akan mendapat perintah dari seorang pun  selain Allah SWT.
Kami tidak meyakini bahwa  beliau terperangkap dalam perasaan kecemburuan feminisme dan kami juga tidak  percaya bahwa beliau sengaja membangkitkan perasaan ini. Kami tidak mengira  bahwa pribadi Sarah yang mulia akan terpedaya dengan sikap egoisme. Bukankah ia  sendiri yang menikahkan Nabi Ibrahim dengan Hajar, pembantunya agar ia  mendapatkan keturunan? Ia menyadari bahwa dirinya wanita tua dan mandul. Ia  sendiri yang menikahkannya dan membantu pelaksanaannya. Ia telah memberikan dan  mengabdikan dirinya kepada seorang lelaki yang hatinya tiada dipenuhi dengan  cinta kepada siapa pun kecuali cinta kepada Penciptanya.
Allah SWT berfirman tentang  Sarah dan Hajar: “Rahmat Allah dan  keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha  Terpuji lagi Maha Pemurah. (QS. Hud: 73)
Jadi, masalahnya adalah  bukan masalah kecemburuan antara sesama wanita, namun ia adalah tugas yang  diperintahkan oleh Allah SWT yang di dalamnya tersembunyi hikmah-Nya. Barangkali  Sarah lebih heran daripada Hajar ketika Nabi Ibrahim memerintahkannya untuk  membawa anaknya Ismail dan mengikutinya. “Ke mana engkau hai Ibrahim pergi?”  Mungkin pertama-tama Hajar yang bertanya kepadanya dan mungkin juga Sarah yang  bertanya. Nabi Ibrahim hanya terdiam dan akhirnya kedua wanita itu pun juga  terdiam.
Di sana terdapat hikmah yang  tersembunyi di mana Nabi Ibrahim tidak mengetahuinya dan Allah SWT tidak  menjelaskan kepadanya. la tidak mengetahui hai itu sebagaimana mereka berdua  juga tidak mengetahuinya. Jadi kedua-duanya hanya terdiam sebagai bentuk akhlak  dari istri-istri nabi. Inilah Hajar yang sendirian bersama anaknya di lembah  yang terasing dan tandus, di mana ia tidak mengetahui rahasia di balik tempat
itu. Inilah Ismail yang memulai perjalanannya menuju Allah SWT saat masih
menyusui. Ia mengalami ujian saat masih kecil dan juga ujian bagi ayahnya, di
mana ia mendapatkan seorang anak saat sudah tua. Nabi Ibrahim menyadari bahwa
manusia tidak memiliki sesuatu pun dalam dirinya. Dan seseorang yang cinta
kepada Allah SWT akan memberikan dirinya kepada Allah SWT dan akan memberikan
apa yang disukai oleh dirinya kepada Allah SWT tanpa harus diminta. Itu adalah
hukum cinta yang dalam. Kami tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim mengetahui mengapa
ia harus meninggalkan Ismail dan ibunya di tempat itu. Kami tidak mengira bahwa
Allah SWT telah memberitahunya. Allah SWT hanya menurunkan perintah dan Ibrahim
hanya menaatinya. Di sinilah tampak kerasnya ujian dan kesulitannya. Di sinilah
cinta yang paling dalam diungkapkan, dan di sinilah cinta yang murni
dituangkan.

Allah SWT menguji  kekasih-Nya Ibrahim dengan suatu ujian yang sangat keras, di mana umumnya para  orang tua berat sekali melakukannya. Bukan berarti bahwa cinta Allah SWT kepada  Ibrahim dan cinta Ibrahim kepada-Nya menjadikan Ibrahim tidak memiliki perasaan  kemanusiaan. Kekuatan cintanya pada Allah SWT justru menjadikan sebagai lautan  dari perasaan kemanusiaan, bahkan lautan yang tidak bertepi. Perasaan beliau
terhadap Ismail lebih besar, lebih lembut, dan lebih sayang dari perasaan ayah
mana pun terhadap anaknya. Meskipun demikian, beliau rela meninggalkannya di
tempat yang tandus karena Allah SWT memerintahkan hal tersebut. Terjadilah
pergulatan dalam dirinya namun ia mampu melewati ujiannya dan beliau memilih
cinta Allah SWT daripada cinta anaknya.

Ketika Nabi Ibrahim  menampakkan kecintaan yang luar biasa dari yang seharusnya kepada anaknya, maka  Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelihnya. Allah SWT agar hanya Dia yang  menjadi pusat cinta para nabi-Nya. Barangsiapa yang mencintai Allah SWT, maka ia  pun harus mencintai kebenaran dan orang yang mencintai kebenaran adalah orang  memenuhi hatinya dengan cinta kepada Penciptanya semata. Ismail mewarisi  kesabaran ayahnya. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT sebelumnya:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah  kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. ash-Shaffat:  100)
Allah SWT menjawab: “Maka Kami beri dia kabar  gembira dengan seorang anak  yang amat sabar.” (QS. ash-Shaffat: 101)
Kesabaran yang sama yang  terdapat pada ayahnya, kebaikan yang sama, ketakwaan yang sama, dan adab  kenabian yang sama pula. Ismail mendapatkan ujian yang pertama saat beliau kecil  dan ujian itu berakhir saat Allah SWT memancarkan zamzam dari kedua kakinya  sehingga darinya ibunya minum dan menyusuinya. Kemudian Ismail mendapatkan ujian  yang kedua dalam hidupnya saat ia menginjak masa muda:
“Maka tatkala anak itu  sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai  anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka  pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang  diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang  yang sabar.’” (QS. ash-Shaffat: 102)
Apa yang Anda kira terhadap  jawaban si anak? Ia tidak bertanya tentang sifat dari mimpi itu, dan ia tidak  berdebat dengan ayahnya tentang kebenaran mimpi itu, tetapi yang dikatakannya:  “Wahai ayahku laksanakanlah apa yang diperintahkan. “Janganlah engkau gelisah  karena aku dan janganlah engkau menampakkan kesedihan dan keluh-kesah. “Engkau  akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Demikianlah jawaban seorang  anak yang saleh terha dap ayahnya yang saleh. Itulah puncak dari kesabaran dari
seorang anak dan tentu orang tuanya lebih harus bersabar. Itu bagaikan
perlombaan di antara keduanya untuk menguji siapa di antara mereka yang paling
sabar. Perlombaan yang tujuannya adalah meraih cinta Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Dan ceritakanlah (hai  Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an.  Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul  dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat,  dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam: 54-55)
Baitullah
Ismail hidup di semenanjung  Arab sesuai dengan kehendak Al lah SWT. Ismail memelihara kuda dan terhibur  dengannya serta memanfaatkannya untuk keperluannya. Sedangkan air zamzam sangat  membantu orang-orang yang tinggal di daerah itu. Kemudian sebagian kafilah  menetap di situ dan sebagian kabilah tinggal di tempat itu. Nabi Ismail tumbuh  menjadi dewasa dan menikah. Lalu ayahnya, Nabi Ibrahim, mengunjunginya dan tidak  menemukannya dalam rumah namun ia hanya mendapati istrinya. Nabi Ibrahim  bertanya kepadanya tentang kehidupan mereka dan keadaan mereka. Istrinya  mengadukan padanya tentang kesempitan hidup dan kesulitannya. Nabi Ibrahim  berkata padanya: “Jika datang suamimu, maka perintahkan padanya untuk mengubah  gerbang pintunya.”
Ketika Nabi Ismail datang,  dan istrinya menceritakan padanya perihal kedatangan seorang lelaki, Ismail  berkata: “Itu adalah ayahku dan ia memerintahkan aku untuk meninggalkanmu, maka  kembalilah engkau pada keluargamu.” Kemudian Nabi Ismail menikahi wanita yang  kedua. Nabi Ibrahim mengunjungi istri keduanya dan bertanya kepadanya tentang  keadaannya. Lalu ia menceritakan pada nya bahwa mereka dalam keadaan baik-baik  dan dikaruniai nikmat. Nabi Ibrahim puas terhadap istri ini dan memang ia cocok  dengan anaknya. Barangkali Nabi Ibrahim menggunakan kemampuan spiritualnya dan  cahaya yang mampu menyingkap kegaiban yang dimilikinya. Nabi Ibrahim menyiapkan  Ismail untuk mengemban tugas yang besar. Yaitu tugas yang membutuhkan kerja  keras kemanusiaan seluruhnya dan waktunya seluruhnya serta kenyamanannya  seluruhnya.
Ismail menjadi besar dan  mencapai kekuatannya. Nabi Ibrahim mendatanginya. Tibalah saat yang tepat untuk  menjelaskan hikmah Allah SWT yang telah terjadi dari perkara-perkara yang samar.  Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail: “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah SWT  memerintahkan padaku suatu perintah” ketika datang perintah pada Nabi Ibrahim  untuk menyembelihnya, beliau menjelaskan kepadanya persoalan itu dengan
gamblang. Dan sekarang ia hendak mengemukakan perintah lain yang sama agar ia
mendapatkan keyakinan bahwa Ismail akan membantunya. Kita di hadapan perintah
yang lebih penting daripada penyembelihan. Perintah yang tidak berkenaan dengan
pribadi nabi tetapi berkenaan dengan makhluk.

Ismail berkata:  “Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu padamu.” Nabi Ibrahim berkata:  “Apakah engkau akan membantuku?” Ismail menjawab: “Ya, aku akan membantumu.”  Nabi Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan aku untuk membangun  rumah di sini.” Nabi Ibrahim mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjuk suatu  bukit yang tinggi di sana.
Selesailah pekerjaan itu.  Perintah itu telah dilaksanakan dengan berdirinya Baitullah yang suci. Itu  adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk menusia di bumi. Ia adalah rumah  pertama yang di dalamnya manusia menyembah Tuhannya. Dan karena Nabi Adam adalah  manusia yang pertama turun ke bumi, maka keutamaan pembangunannya kembali  padanya. Para ulama berkata: “Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia
melakukan thawaf di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar
arsy Allah SWT.

Nabi Adam membangun suatu  kemah yang di dalamnya ia menyembah Allah SWT. Adalah hal yang biasa bagi Nabi  Adam— sebagai seorang Nabi—untuk membangun sebuah rumah untuk menyembah Allah  SWT. Tempat itu dipenuhi dengan rahmat. Kemudian Nabi Adam meninggal dan  berlalulah abad demi abad sehingga rumah itu hilang dan tersembunyi tempatnya.  Maka Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membangun kedua  kalinya agar rumah itu tetap berdiri sampai hari kiamat dengan izin Allah SWT.  Nabi Ibrahim mulai membangun Ka’bah. Ka’bah adalah sekumpulan batu yang tidak  membahayakan dan tidak memberikan manfaat. Ia tidak lebih dari sekadar batu.  Meskipun demikian, ia merupakan simbol tauhid Islam dan tempat penyucian kepada  Allah SWT. Nabi Adam memiliki tauhid yang tinggi dan Islam yang mutlak. Nabi  Ibrahim pun termasuk seorang Muslim yang tulus dan ia bukan termasuk seorang  musyrik.
Batu-batu rumah itu telah  dibangun dari ketenteraman hati Nabi Adam dan kedamaian Nabi Ibrahim serta  cintanya dan kesabaran Nabi Ismail serta ketulusannya. Oleh karena itu, ketika  Anda memasuki Masjidil Haram Anda akan merasakan suatu gelombang kedamaian yang  sangat dalam. Terkadang pada kali yang pertama engkau melihat dirimu dan tidak  melihat rumah dan pemeliharanya. Dan barangkali engkau melihat rumah pada kali  yang kedua namun engkau tidak melihat dirimu dan Tuhanmu. Ketika engkau pergi ke  haji engkau tidak akan melihat dirimu dan rumah itu yang engkau lihat hanya
pemelihara rumah itu. Ini adalah haji yang hakiki. Inilah hikmah yang pertama  dari pembangunan Ka’bah.

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika  Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya  berdoa): ‘Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya  Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah  kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara  anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami  cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami.  Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan  kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan  membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka  al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. al-Baqarah:
127-129)

Ka’bah terdiri dari  batu-batuan yang ada di bumi di mana ia dijadikan pondasi oleh Nabi Ibrahim dan  Ismail. Sejarah menceritakan bahwa ia pernah dihancurkan lebih dari sekali
sehingga ia pun beberapa kali dibangun kembali. Ia tetap berdiri sejak masa Nabi
Ibrahim sampai hari ini. Dan ketika Rasulullah saw diutus —sebagai bukti
pengkabulan doa Nabi Ibrahim—beliau mendapad Ka’bah dibangun terakhir kalinya,
dan tenaga yang dicurahkan oleh orang-orang yang membangunnya sangat terbatas di
mana mereka tidak menggali dasarnya sebagaimana Nabi Ibrahim menggalinya. Dari
sini kita memahami bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mencurahkan tenaga keras
yang tidak dapat ditandingi oleh ribuan laki-laki. Rasullah saw telah menegaskan
bahwa kalau bukan karena kedekatan kaum dengan masa jahiliyah dan kekhawatiran
orang-orang akan menuduhnya dengan berbagai tuduhan jika beliau menghancurkannya
dan membangunkannya kembali, niscaya beliau ingin merobohkannya dan
mengembalikannya ke pondasi Nabi Ibrahim.

Sungguh kedua nabi yang  mulia itu telah mencurahkan tenaga keras dalam membangunnya. Mereka berdua  menggali pondasi karena dalamnya tanah yang di bumi. Mereka memecahkan  batu-batuan dari gunung yang cukup jauh dan dekat, lalu setelah itu  memindahkannya dan meratakannya serta membangunnya. Tentu hal itu memerlukan  tenaga keras dari beberapa pria tetapi mereka berdua membangunnya bersama-sama.
Kita tidak mengetahui berapa banyak waktu yang digunakan untuk membangun Ka’bah
sebagaimana kita tidak mengetahui waktu yang digunakan untuk membuat perahu Nabi
Nuh. Yang penting adalah, bahwa perahu Nabi Nuh dan Ka’bah sama-sama sebagai
tempat perlindungan manusia dan tempat yang membawa keamanan dan kedamaian.
Ka’bah adalah perahu Nabi Nuh yang tetap di atas bumi selama-lamanya. Ia selalu
menunggu orang-orang yang menginginkan keselamatan dari kedahsyatan angin topan
yang selalu mengancam setiap saat.

Allah SWT tidak menceritakan  kepada kita tentang waktu pembangunan Ka’bah. Allah SWT hanya menceritakan  perkara yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Dia menceritakan tentang  kesucian jiwa orang-orang yang membangunnya dan doa mereka saat  membangunnya: “Tuhan kami, terimalah dari  hand (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui. ” (QS. al-Baqarah: 127)
Itulah puncak keikhlasan  orang-orang yang ikhlas, ketaatan orang-orang yang taat, ketakutan orang-orang  yang takut, dan kecintaan orang-orang yang mencintai: “Ya Tuhan kami, jadikanlah  kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara  cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. al-Baqarah: 128)
Sesungguhnya kaum Muslim  yang paling agung di muka bumi saat itu, mereka berdoa kepada Allah SWT agar  menjadikan mereka termasuk orang-orang yang berserah diri pada-Nya. Mereka  mengetahui bahwa hati manusia terletak sangat dekat dengan ar-Rahman (Allah  SWT). Mereka tidak akan mampu menghindari tipu daya Allah SWT. Olah karena itu,  mereka menampakkan kemurnian ibadah hanya kepada Allah SWT, dan mereka membangun  rumah Allah SWT serta meminta pada-Nya agar menerima pekerjaan mereka.
Selanjutnya, mereka meminta  Islam (penyerahan diri) pada-Nya dan rahmat yang turun pada mereka di mana  mereka memohon kepada Allah SWT agar memberi mereka keturunan dari umat Islam.  Mereka ingin agar jumlah orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang sujud  dan rukuk semakin banyak. Sesungguhnya doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail  menyingkap isi had seorang mukmin. Mereka membangun rumah Allah SWT dan pada  saat yang sama mereka disibukkan dengan urusan akidah (keyakinan). Itu
mengisyaratkan bahwa rumah itu sebagai simbol dari akidah.

“Dan tunjukkanlah kepada  kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami.  Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. ” (QS.  al-Baqarah: 128)
Perlihatkanlah kepada kami  cara ibadah yang Engkau sukai. Perlihatkanlah kepada kami bagaimana kami  menyembah-Mu di bumi. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha  Penerima taubat dan Maha Penyayang. Setelah itu, kepedulian mereka melampaui  masa yang mereka hidup di dalamnya. Mereka berdoa kepada Allah SWT:
“Ya Tuhan kami, utuslah  untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada  mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan  al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha  Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. al-Baqarah: 129)
Akhirnya, doa tersebut  terkabul ketika Allah SWT mengutus Muhammad bin Abdillah saw. Doa tersebut  terwujud setelah melalui masa demi masa. Selesailah pembangunan Ka’bah dan Nabi  Ibrahim menginginkan batu yang istimewa yang akan menjadi tanda khusus di mana  tawaf di sekitar Ka’bah akan dimulai darinya. Ismail telah mencurahkan tenaga di  atas kemampuan manusia biasa. Beliau bekerja dengan sangat antusias sebagai
wujud ketaatan terhadap perintah ayahnya. Ketika beliau kembali, Nabi Ibrahim
telah meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. “Siapakah yang mendatangkannya (batu)
padamu wahai ayahku?” Nabi Ibrahim berkata: “Jibril as yang mendatangkannya.”
Selesailah pembangunan Ka’bah dan orang- orang yang mengesakan Allah SWT serta
orang-orang Muslim mulai bertawaf di sekitarnya. Nabi Ibrahim berdiri dalam
keadaan berdoa kepada Tuhannya sama dengan doa yang dibacanya sebelumnya, yaitu
agar Allah SWT menjadikan had manusia cenderung pada tempat itu: “Maka jadikanlah hati  sebagian manusia cenderung kepada mereka. “(QS. Ibrahim: 37)

Karena pengaruh doa  tersebut, kaum Muslim merasakan kecintaan yang dalam untuk mengunjungi Baitul  Haram. Setiap orang yang mengunjungi Masjidil Haram dan kembali ke negerinya ia  akan merasakan kerinduan pada tempat itu. Semakin jauh ia, semakin meningkat  kerinduannya padanya. Kemudian, datanglah musim haji pada setiap tahun, maka  hati yang penuh dengan cinta pada Baitullah akan segera melihatnya dan rasa
hausnya terhadap sumur zamzam akan segera terpuaskan. Dan yang lebih penting
dari semua itu adalah cinta yang dalam terhadap Tuhan, Baitullah dan sumur
zamzam yaitu, Tuhan alam semesta. Allah SWT berfirman berkenaan dengan
orang-orang yang mendebat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail:

“Ibrahim bukan seorang   Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus  lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan  orang-orang musyrik. ” (QS. Ali ‘Imran: 67)
Allah SWT mengabulkan doa  Nabi Ibrahim dan beliau yang pertama kali menamakan kita sebagai orang-orang  Muslim. Allah SWT berfirman: “Dan Dia sekali-kali tidak
menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu
Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dan dahulu. ” (QS.
al-Hajj: 78)

http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/11/05/kisah-nabi-ismail-idul-adha-kabah-dan-air-zam-zam/

1 komentar:

ardi saputra said...

Subhanallah,, Alhamdulillah terima kasih infonya,, :)

Post a Comment

"Komentar anda sangat bermanfaat untuk perkembangan blog ini. Jangan lupa adab berkomentar, dan jangan buang waktu untuk spam. Terima Kasih!!!."