Menuduh Kaum Mukminin dan Menjual Agama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada AllahSubhanahu wa Ta’alayang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dalam kesempatan yang mulia ini akan kami kemukakan tentang adanya gejala Menuduh Kaum Mukminin dan Menjual Agama.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا [الأحزاب : 58]
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab [33] : 58)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Firman Allah Ta’ala:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, yaitu mereka menuduh sesuatu yang sebenarnya kaum Mu’minin dan Mu’minat tidak mengerjakan dan tidak memperbuatnya...."
فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا [الأحزاب : 58]
"...Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS Al-Ahzab [33] : 58). Ini adalah kebohongan besar, yaitu suatu cara menceritakan dan mengumbar berita tentang sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang-orang Mu’min dan Mu’minat dengan cara mencela dan merendahkan mereka. Di antara orang yang banyak masuk dalam kategori (pelanggaran) ini adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan RasulNya, kemudian kaum rafidhah atau syi’ah yang merendahkan dan mencela sahabat dengan sesuatu yang sebenarnya Allah telah bebaskan mereka dari hal tersebut serta mensifati mereka pula dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan khabar yang diberikan oleh Allah tentang mereka (para sahabat) karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Allah telah meridhoi dan memuji para Sahabat yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Sedangkan orang-orang bodoh dan jahil itu mencela dan merendahkan mereka serta menyebut mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada diri mereka (para sahabat) dan tidak mereka lakukan selama-lamanya. Mereka (para penuduh itu) pada hakekatnya pengidap sakit hati yang mencela orang-orang terpuji dan (sebaliknya justru) memuji orang-orang tercela.
Selanjutnya Ibnu Katsir mengemukakan Hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْغِيبَةُ ؟ قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ ؟ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ.
وهكذا رواه الترمذي، عن قتيبة، عن الدراوردي، به. قال: حسن صحيح
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Ya Rasulullah, ghibah itu apa?”Beliau menjawab, “Engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang dibencinya.”Ditanyakan lagi, “Apakah pendapatmu, jika yang dikatakan itu memang benar ada pada dirinya?”Beliau menjawab, “Jika benar ada pada dirinya, maka engkau telah berbuat ghibah kepadanya. Dan jika tidak ada pada dirinya, maka berarti engkau telah berdusta.” (Riwayat Abu Dawud, dan demikian pula yang diriwayatkan At-Tirmidzi, dan ia berkata: hasan shahih.). (Tafsir Ibnu Katsir, ayat 58 Surat Al-Ahzab)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dalam kitab Subulus Salam dijelaskan,
وَفِي قَوْلِهِ : ( أَخَاك ) أَيْ أَخَ الدِّينِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ غَيْرَ الْمُؤْمِنِ تَجُوزُ غِيبَتُهُ وَتَقَدَّمَ الْكَلَامُ فِي ذَلِكَ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ : فِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مِنْ لَيْسَ بِأَخٍ كَالْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ وَسَائِرِ أَهْلِ الْمِلَلِ ، وَمَنْ قَدْ أَخْرَجَتْهُ بِدْعَتُهُ عَنْ الْإِسْلَامِ لَا غِيبَةَ لَهُ .
Dalam sabda Nabi saw, lafal ( أَخَاك ) saudaramu itu artinya saudara seagama. Itu adalah dalil bahwa selain Mu’min boleh di-ghibah. Ibnu Mundzir berkata: Dalam hadits ini ada dalil bahwa orang yang bukan sudara seagama seperti yahudi, nasrani, dan agama-agama lain, dan juga orang yang telah sungguh keluar dari Islam karena bid’ahnya maka tidak ada baginya (larangan untuk) dighibah. (Subulus Salam, bab Ghibah)
Jamaah Jum’ah rahimakumullah, kehormatan orang Mu’min itu dilindungi dalam Islam. Sehingga sama sekali sesama Muslim tidak boleh melanggar kehormatannya, meng-ghibahnya (menggunjingnya), merendahkannya dan pelanggaran-pelanggaran lainnya, apalagi menyebarkan berita dusta yang menimbulkan aneka masalah bagi Ummat Islam.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, kehormatan Ummat Islam yang telah dilindungi oleh Islam itu kadang di masyarakat terjadi, tahu-tahu dikoyak-koyak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang secara kepentingan dan kedekatan dimungkinkan membawa misi yang bertentangan dengan Islam. Ketika kepentingan pribadi diaduk dan diramu dengan adonan pergaulan dengan musyrikin dan kafirin, maka misi kemusyrikan dan kekafiran itu dapat mendominasi jiwa pelakunya. Sehingga kehormatan Ummat Islam yang seharusnya dijaga dan dijunjung baik-baik, tahu-tahu dikoyak-koyaknya. Disebarlah isu macam-macam yang mengakibatkan timbulnya rasa saling curiga dan sebagainya. Sehingga kehidupan Ummat Islam yang tadinya harmonis, saling menghargai, menghormati dan saling percaya, berubah jadi saling curiga, saling melontarkan kata-kata keras dan semacamnya. Ketidak benaran pun bisa-bisa dijadikan pegangan seolah alat bukti atau bahkan pedoman. Sehingga perjuangan sebagian orang yang terjebak dalam cara yang tidak benar ini akan tampak aneh: yaitu lebih memegangi bahkan memperjuangkan yang tidak disuruh dalam agama, dan mengabaikan hal prinsip dalam Islam yang justru harusnya diperjuangkan. Atau, lebih bermanis-manis terhadap yang berhadapan dengan Islam dibanding kepada Muslimin yang teguh mentaati Islam.
Sosok-sosok aneh itu kini mudah dijumpai, bahkan kadang bertingkah untuk agar mereka mudah dikenali. Maka mereka yang seperti ini sebenarnya sudah diingatkan untuk tidak berwala’ (setia) kepada kafirin-musyrikin, namun justru mereka langgar. Dan sudah diingatkan bahwa Yahudi dan Musyrikin itu sebegitu kerasnya perumusuhan mereka terhadap Muslimin, namun justru orang-orang maghrur (yang tertipu) ini justru berwala’ (setia) kepada mereka. Dan diingatkan Al-Qur’an bahwa orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan senang kepada Muslim selama tidak mengikuti agama mereka, namun orang-orang maghrur justru berwala’ pula kepada mereka. Padahal, dalam hadits diingatkan, bahwa seseorang itu tergantung agama temannya, maka seharusnya waspada dan melihat lebih dulu, dengan siapa akan berteman. Namun justru orang-orang maghrur memilih teman yang memusuhi aqidah Islam.
Tingkah polah orang-orang maghrur bukanlah tanggung jawab siapa-siapa kecuali diri mereka sendiri. Namun yang jelas, teguran-teguran dan peringatan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah jelas dan tegas di antaranya ayat-ayat dan hadits ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآَيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران/118]
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (QS. Ali-‘Imran [3] : 118)
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا [المائدة/82]
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." (QS. Al-Maaidah [5] : 82)
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (١٢٠)
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)', dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqarah [2] : 120)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ ». (أبو داود ، والترمذى - حسن غريب) قال الشيخ الألباني : حسن
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Seorang laki-laki itu bergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah salah seorang melihat siapa yang menjadi teman gaulnya." (HR Abu Daud, dan At-Tirmidzi, ia berkata hasan gharib. Kata Syaikh Al-Albani: Hasan)
Yang lebih celaka lagi bila memang sengaja bergaul bahkan wala’ (setia) kepada pihak-pihak yang sebenarnya dilarang oleh Allah Ta’ala untuk dicintai. Dan lebih hina lagi ketika wala’nya itu demi meraih harta dan kesenangan dunia dengan mengais-ngais proyek yang mencelakakan Islam dari mereka. Itulah yang disebut menjual agama demi dunia.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ».
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia." (HR. Muslim)
Hadits ini menganjurkan agar cepat-cepat beramal kebaikan sebelum terhalang dan sibuk dengan fitnah-fitnah yang terjadi yang bertumpuk-tumpuk banyak menyibukkan bagai tumpukan gelap di malam yang gelap gulita tanpa secercah sinar rembulan pun.
Betapa ruginya, Agama Islam yang ketika diyakini dan diamalkan dengan ta’at ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala, telah Allah janjikan surga yang sama sekali tidak dapat diukur dengan harta dunia, tahu-tahu dijual hanya untuk kesenangan sesaat dan sedikit di dunia. Itupun masih merugikan Kaum Muslimin pula ketika yang memberi imbalan harta dunia itu pihak-pihak yang berhadapan dengan Ummat Islam. Itulah musuh dalam selimut yang sebenar-benarnya.
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [البقرة : 9 ، 10]
"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar,dalam hati mereka ada penyakit [23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (QS. Al-Baqarah [2] : 9-10)
[23] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad saw lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi saw, agama dan orang-orang Islam.
Gejala adanya pihak-pihak yang ghurur dan berkecimpung dalam melayani orang kafir untuk memusuhi Ummat Islam telah ada. Sehingga bahayanya bukan hanya menimpa mereka, namun mengakibatkan aneka macam problema dan kesibukan bagi Ummat Islam. Maka jangan sampai kita terjerumus ikut-ikutan jadi orang yang ghurur seperti itu, dan semoga Allah menghindarkan kita dari bahaya akibat polah tingkah mereka. Amien ya Rabbal ‘alamien.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْوَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Category:

0 komentar:

Post a Comment

"Komentar anda sangat bermanfaat untuk perkembangan blog ini. Jangan lupa adab berkomentar, dan jangan buang waktu untuk spam. Terima Kasih!!!."